Jumat, 31 Maret 2017


Berbakti kepada orang tua merupakan suatu kewajiban mutlak seorang anak terhadap orang tuanya, tak terkecuali anak laki-laki atau perempuan. Hal ini merupakan cara seorang anak untuk menghormati dan membalas jasa-jasa orang tua yang telah merawat serta membesarkannya. Meskipun sebenarnya tidak akan pernah terbalaskan karena besar dan tulusnya jasa-jasanya tersebut. Namun orang tua juga tak pernah menuntut balas akan kasih sayang yang diberikan kepada anak-anaknya, tetapi sebagai seorang anak sudah seyogyanyalah kita membalas itu dengan cara berbakti kepada mereka.

Berbakti kepada orang tua tidak hanya ketika mereka masih hidup, tetapi walaupun mereka sudah meninggal kita sebagai anak masih harus terus berbakti kepada orang tua sampai akhir hayat kita. Berbakti di saat orang tua masih hidup tentu bisa dilakukan dengan jelas dan nyata di hadapan mereka. Lantas bagaimana cara untuk berbakti kepada orang tua ketika mereka sudah meninggal nanti?

Berikut beberapa Cara Berbakti Kepada Orang Tua Yang Sudah Meninggal :

1. Mendoakan keduanya
Hal ini senada dengan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim, no. 1631)
Dari hadits di atas jelas disebutkan bahwa salah satu dari tiga perkara yang tidak putus adalah “do’a anak sholeh”. Itu artinya kita masih bisa berdo’a untuk kebaikan orang tua kita. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita selalu mendo’akan orang tua meskipun mereka sudah meninggal. Tentunya do’a yang kita panjatkan adalah do’a yang baik-baik bagi mereka.

2. Memohonkan ampunan untuk keduanya
Hal ini sesuai dengan sebuah hadits qudsi, yaitu hadist Rasulullah SAW yang datangnya langsung dari firman Allah SWT (tetapi bukan al Qur’an), yang berbunyi:
“ ….. diangkat derajat seorang yang sudah mati, kemudian berkata, “Ya Rabb, apa (penyebab) ini?”, kemudian Allah menjawab, “anakmu memohonkan ampun untukmu”.
Dari hadits qudsi di atas dapat kita telaah bahwa derajat orang tua yang sudah meninggal akan diangkat apabila kita memohonkan ampun baginya kepada Allah SWT. Oleh karena itu, sebagai anak yang ingin berbakti kepada orang tua sudah sepatutnya kita untuk memohonkan ampun bagi orang tua kita yang sudah meninggal kepada Allah SWT.

3. Melunasi semua hutang keduanya
Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tua, membantu melunasi hutang adalah kewajiban bagi kita di saat orang tua masih hidup meskipun terkadang mereka menolak bantuan kita. Namun apabila orang tua sudah meninggal, maka kewajiban tersebut berubah menjadi sebuah tanggung jawab yang harus dipenuhi. Hal ini sesuai hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:
“Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ruh seorang yang beriman tergantung dengan hutangnya, sampai dilunasi hutangnya”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6779)
Dari hadits di atas dapat kita telaah bahwa ruh seseorang yang sudah meninggal tergantung pada hutangnya sampai hutangnya lunas. Oleh karena itu, kita sebagai anak yang ingin berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal adalah dengan cara membayar hutang-hutang mereka yang belum terlunasi agar ruh mereka bisa tenang dan diterima di sisi-Nya. Dalam hal pembayaran hutang ini sebenarnya pihak keluarga lainnya boleh saja membantu untuk melunasinya. Kalaupun nanti terasa berat, percayalah bahwa Allah SWT pasti akan membantu setiap orang yang berhutang untuk melunasinya. Dengan catatan kita tidak pernah menyerah untuk selalu berusaha dan berdo’a kepada-Nya.Sebagai tambahan jikalau kita merupakan pihak yang dihutangi, maka sudah sepatutnya kita untuk memberikan kelonggaran waktu dalam melunasi hutang tersebut.

4. Menuntaskan nadzar, kafarat, wasiat, dan janji yang belum terpenuhi.
Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:
“Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAW, lalu dia berkata, “Sesungguhnya ibu saya telah bernazar melakukan haji, dia meninggal sebelum melaksanakan nadzar hajinya. Apakah boleh melakukan haji menggantikannya?” Nabi menjawab, “Lakukan haji untuknya”. (HR. Bukhari)
Dari hadits di atas diketahui bahwa seorang anak memiliki kewajiban untuk melunasi atau menuntaskan nadzar orang tuanya yang sudah meninggal. Begitu pun dengan kita, apabila orang tua kita sudah meninggal, maka kita wajib menuntaskan nadzar yang belum dipenuhinya sebagai tanda bakti kita kepada mereka. Meskipun dalam hadits hanya disebutkan nadzar saja, tetapi sebenarnya bukan hanya itu saja yang harus kita tuntaskan. Adapun beberapa hal selain nadzar yang harus kita tuntaskan untuk orang tua kita apabila belum terpenuhi sampai mereka meninggal, yaitu kafarat (denda), wasiat, dan janji. Jadi intinya adalah kita bisa berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal dengan cara menuntaskan nadzar, kafarat, wasiat, dan janji mereka yang belum terpenuhi.

5. Menjaga silaturahmi serta menghormati keluarga orang tua yang sudah meninggal
Salah satu cara lain untuk berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal adalah menjaga silaturahmi dengan keluarga, kerabat, dan sahabat (teman) keduanya serta menghormati mereka semua. Hal ini sesuai dengan beberapa hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:
“Sesungguhnya suatu hal yang paling berbakti ialah silaturahim seorang anak kepada kerabat yang mencintai Ayahnya”. (HR. Muslim)
“Sesungguhnya Ibu dari Sa’ad bin Ubadah radliyallahu ‘anhu meninggal dunia, sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sampingnya. Kemudian Sa’ad mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal sedangkan aku pada saat itu tidak berasa di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Iya, bermanfaat”. Kemudian Sa’ad mengatakan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, “Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya”. (HR. Bukhari)
Dari kedua hadits di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal adalah menyambung silaturahmi kepada keluarga, kerabat, dan sahabat (teman) keduanya. Tentunya kita juga harus menaruh rasa hormat kepada mereka semua seperti kita menghormati kedua orang tua kita. Ditambah lagi, sedekah yang kita khususnya kepada orang tua yang sudah meninggal hukumnya adalah boleh dan aku mendatangkan manfaat juga bagi mereka.

6. Berziarah ke makam (kubur) keduanya
Salah satu cara lain lagi yang bisa dilakukan oleh kita untuk berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal adalah berziarah ke makam mereka. Beberapa hal yang bisa kita lakukan ketika berziarah ke makam orang tua yang sudah meninggal selain mendo’akan dan membacakan Al Qur’an (yasin), yaitu membersihkan dan merawat kondisi makam seperti menyapu, mencabut rumput-rumput liar yang mengganggu, dan memperbagus makam. Namun yang utama tentu adalah mendo’akan dan membacakan ayat-ayat Al Qur’an bagi keduanya.

7. Menjadi anak yang sholeh
Cara terakhir inilah yang merupakan inti dari 6 poin yang telah disebutkan dan dijelaskan di atas. Mengapa demikian? Karena apabila kita merupakan anak yang sholeh, maka sudah dapat dipastikan bahwa kita akan melakukan semua (6 poin) yang telah disebutkan dan dijelaskan di atas. Anak yang sholeh pasti akan mengetahui apa kewajibannya terhadap orang tua, yaitu berbakti.

Meskipun kedua orang tuanya sudah meninggal, dia akan tetap berbakti kepada mereka dengan cara melakukan keenam cara di atas karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang anak. Tentu saja yang bisa menilai tingkat kesholehan kita adalah hanyalah Allah. Namun sebagai hamba-Nya kita harus selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mencpai ridho-Nya termasuk dengan cara berbakti kepada orang tua, terlepas mereka masih hidup atau sudah meninggal.
Sebagaimana kita tahu bahwa keridhoan Allah bergantung kepada keridhoan orang tua. Oleh karena itu, tetaplah berusaha untuk selalu berbakti sebaik mungkin kepada orang tua, terlepas mereka masih hidup atau sudah meninggal sekalipun.

Demikian beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tua yang sudah meninggal. Sayangilah selalu orang tua kita, terlepas mereka masih hidup atau sudah meninggal sekalipun. Lebih berbaktilah ketika orang tua kita masih hidup karena jikalau kita yang meninggal terlebih dahulu, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk lebih banyak berbakti kepada mereka.

Always Love Our Parents! 

 https://12056fis.wordpress.com/2013/06/05/10-cara-sederhana-berbakti-dan-memuliakan-orang-tua/


Selasa, 07 Februari 2017

Tayammum 
Tayammum secara bahasa diartikan sebagai Al Qosdu (القَصْدُ) yang berarti maksud.
Sedangkan secara istilah dalam syari’at adalah sebuah peribadatan kepada Allah berupa mengusap wajah dan kedua tangan dengan menggunakan sho’id yang bersih.
Sho’id adalah seluruh permukaan bumi yang dapat digunakan untuk bertayammum baik yang terdapat tanah di atasnya ataupun tidak.
 Adapun dalil dari Al Qur’an adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,
 
وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ
“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”.
(QS. Al Maidah [5]

Media yang dapat digunakan untuk bertayammum adalah seluruh permukaan bumi yang bersih baik itu berupa pasir, bebatuan, tanah yang berair, lembab ataupun kering.
Hal ini berdasarkan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu di atas dan secara khusus,

جُعِلَتِ الأَرْضُ كُلُّهَا لِى وَلأُمَّتِى مَسْجِداً وَطَهُوراً
“Dijadikan (permukaan, pent.) bumi seluruhnya bagiku (Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) dan ummatku sebagai tempat untuk sujud dan sesuatu yang digunakan untuk bersuci”

Keadaan yang dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan tayammum :
  • Jika tidak ada air baik dalam keadaan safar atau dalam perjalanan ataupun tidak
  • Terdapat air (dalam jumlah terbatas.) bersamaan dengan adanya kebutuhan lain yang memerlukan air tersebut semisal untuk minum dan memasak.
    • Adanya kekhawatiran jika bersuci dengan air akan membahayakan badan atau semakin lama sembuh dari sakit.
    • Ketidakmapuan menggunakan air untuk berwudhu dikarenakan sakit dan tidak mampu bergerak untuk mengambil air wudhu dan tidak adanya orang yang mampu membantu untuk berwudhu bersamaan dengan kekhawatiran habisnya waktu sholat.
    • Khawatir kedinginan jika bersuci dengan air dan tidak adanya yang dapat menghangatkan air tersebut. 
    Image result for tata cara tayamum
     Tata cara melakukan tayamum :
    • Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan sekali pukulan kemudian meniupnya.
    • Kemudian menyapu punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya.
    • Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
    • Semua usapan baik ketika mengusap telapak tangan dan wajah dilakukan sekali usapan saja.
    • Bagian tangan yang diusap adalah bagian telapak tangan sampai pergelangan tangan saja atau dengan kata lain tidak sampai siku seperti pada saat wudhu.
    • Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah, demikian juga untuk hadats kecil.
    • Tidak wajibnya urut/tertib dalam tayammum.
      Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, 
    خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ ، فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ – وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ – فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا ، فَصَلَّيَا ، ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ ، فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ ، وَلَمْ يُعِدْ الْآخَرُ ، ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ : أَصَبْت السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْك صَلَاتُك وَقَالَ لِلْآخَرِ : لَك الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ

    Dua orang lelaki keluar untuk safar. Kemudian tibalah waktu shalat dan tidak ada air di sekitar mereka. Kemudian keduanya bertayammum dengan permukaan bumi yang suci lalu keduanya shalat. Setelah itu keduanya menemukan air sedangkan saat itu masih dalam waktu yang dibolehkan shalat yang telah mereka kerjakan tadi. Lalu salah seorang dari mereka berwudhu dan mengulangi shalat sedangkan yang lainnya tidak mengulangi shalatnya. Keduanya lalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dan menceritakan yang mereka alami. Maka beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan kepada orang yang tidak mengulang shalatnya, “Apa yang kamu lakukan telah sesuai dengan sunnah dan kamu telah mendapatkan pahala shalatmu”. Beliau mengatakan kepada yang mengulangi shalatnya,  “Untukmu dua pahala
    Nikmat  yang Allah berikan untuk melakukan tayammum :
    Pertama, berupa diampuninya dosa-dosa
    Kedua, berupa hidayah kepada iman, sempurnanya agama (pendapat Ibnu Zaid rohimahullah)
    Ketiga, berupa keringanan untuk tayammum (pendapat Maqotil dan Sulaiman)
    Keempat, berupa penjelasan hukum syari’at (pendapat sebagian ahli tafsir)
      https://muslim.or.id

Kamis, 02 Februari 2017


Image result for tata cara shalat istisqa

Istisqa’ artinyaMeminta hujan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akibat kekeringan dan musim kemarau yang berkepanjangan
Disunnahkan melaksanakan shalat istisqa’ ketika terjadi kekeringan atau musim kemarau yang berkepanjangan yang mengakibatkan sumur dan sungai menjadi kering atau sebagainya. Dan disunnahkan dikerjakan pada saat matahari mulai beranjak naik setinggi satu anak panah, yaitu sepertiga jam setelah terbitnya matahari seperti waktu Shalat Id.Disunnahkan melaksanakan shalat istisqa’ di lapangan terbuka dan bukan di masjid seperti yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam,

 Tata Cara Shalat Istisqa’
  1. Shalat istisqa’ terdiri dari dua rakaat, tanpa adzan dan iqamah. Disunnahkan mengeraskan bacaan
  2. Pada rakaat pertama bertakbir tujuh kali setelah takbiratul ihram. Sedangkan pada rakaat kedua 
  3. jumlah takbirnya lima kali selain takbir ketika bangun dari sujud.
  4. Kedua tangan diangkat pada setiap takbir, sambil memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam antara setiap takbir.
  5. Setelah shalat imam disunnahkan menyampaikan khutbah di hadapan jamaah yang hadir, memperbanyak istighfar dan membaca Al-Qur’an serta doa-doa yang disebutkan dalam riwayat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam. Doa dibaca sambil memperlihatkan pengharapan yang penuh dan ketundukan serta kebutuhan kepada Allah dengan mengangkat tangan setinggi mungkin.
  6. Dianjurkan bagi imam untuk menghadap ke kiblat lalu membalik selendangnya, dengan meletakkan yang semula di sebelah kanan ke sebelah kiri dan sebaliknya sembari tetap melantunkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
 
Sayyidatuna A’isyah ra bercerita: Gerhana matahari pernah terjadi di masa Rasululloh SAW kemudian beliau sholat bersama para sahabat. Beliau pun berdiri dengan lama, ruku’ dengan lama, berdiri lagi dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu ruku’ dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu mengangkat kepala dan bersujud, dan melakukan sholat yang terakhir seperti itu, kemudian selesai dan matahari pun sudah muncul. (HR Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Para ulama sepakat bahwa sholat gerhana matahari dan bulan adalah sunnah dan dilakukan secara berjamaah. Berdasarkan redaksi hadits yang pertama di atas penamaan gerhana matahari dan bulan berbeda, sholat khusuf untuk gerhana bulan dan sholat kusuf untuk gerhana matahari. Imam Maliki dan Syafi’i berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidatuna A’isyah berpendapat bahwa sholat gerhana dengan dua roka’at dengan dua kali ruku’, berbeda dengan sholat Id dan Jum’at.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas juga terdapat penjelasan serupa, yakni sholat gerhana dikerjakan dua roka’at dengan dua kali ruku’, dan dijelaskan oleh Abu Umar bahwa hadits tersebut dinilai paling shahih. Maka dengan begitu keistimewaan shalat gernana dibanding dengan shalat sunnah sunnah lainnya terletak pada bilangan ruku’ pada setiap roka’atnya.
Apalagi dalam setiap ruku’ disunnahkan membaca tasbih berulang-ulang dan berlama-lama
. سُبْحَانِ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ 
Tasbih berarti gerak yang dinamis seperti ketika bulan berrotasi (berputar mengelilingi kutubnya) dan berevolusi (mengelilingi) bumi, bumi berotasi dan berevolusi mengelilingi matahari, atau ketika matahari berotasi dan berevolusi pada pusat galaksi Bimasakti. Namun pada saat terjadi gerhana, ada proses yang aneh dalam rotasi dan revolusi itu. Maka bertasbihlah! Maha Suci Allah, Yang Maha Agung! 
Adapun tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut:
1. Memastikan terjadinya gerhana bulan atau matahari terlebih dahulu.
 (Sebagai panduan lihat di rubrik IPTEK)
2. Shalat gerhana dilakukan saat gerhana sedang terjadi.
3. Sebelum sholat, jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan, ”Ash-shalatu jaami’ah.”
4. Niat melakukan sholat gerhana matahari (kusufisy-syams) atau gerhana bulan (khusufil-qamar),menjadi imam atau ma’mum.
أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ / لِخُسُوْفِ الْقَمَرِاِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّه تَعَالَى
5. Sholat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat.
6. Setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku dan dua kali sujud.
7. Setelah rukuk pertama dari setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan surat kembali
8. Pada rakaat pertama, bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua. 
Demikian pula pada rakaat kedua, bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua. 
Misalnya rakaat pertama membaca surat Yasin (36) dan ar-Rahman (55), lalu raka’at kedua membaca al-Waqiah (56) dan al-Mulk (78)
9. Setelah sholat disunahkan untuk berkhutbah. (nam) Sumber Website Resmi Nahdlatul Ulama

Semoga bermanfaat





 https://miandabi.wordpress.com

Selasa, 31 Januari 2017

Salat Taubat
 merupakan shalat sunnah yang dikerjakan dengan jumlah Raka’at minimal 2 Raka’at dan maksimal dikerjakan sebanyak 6 Raka’at. Shalat sunnah taubah pada umumnya dilakukan pada waktu tertentu, semisal saat tengah malam, atau menjelang malam atau bahkan saat sepertiga malam,   

Pengertian
Taubat Nasuha sendiri ialah muslim yang mencoba untuk bertaubat dan memohon ampunan Allah SWT dari perbuatan dosa besar yang sudah mereka lakukan dan setelah melakukan Taubat tersebut, mereka benar-benar berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan dosa mereka lagi dan benar-benar menyesal telah melakukan perbuatan dosa tersebut. Adapun jenis perbuatan dosa yang masuk ke dalam kreteria dosa besar antara lain Durhaka kepada orang tua, Syirik, Musrik, Berzina, Membunuh, Memakan harga anak yatim atau piatu, Korupsi dan masih banyak lagi.
Waktu mengerjakan shalat taubat nasuha ada baiknya dikerjakaan saat malam tiba setelah Shalat isya sehingga anda bisa mengerjakan Shalat sunnah ini dengan khusyu dan tenang. Namun Waktu Shalat Taubat juga bisa dilakukan saat siang dan malam hari hanya saja anda harus memperhatikan waktu-waktu yang dilarang untuk melakukan Shalat Sunnah.

Cara Shalat
Taubat yang benar-benar nasuha sendiri sama persis dengan Cara Shalat Taubat pada umumnya yang dilengkapi dengan bacaan Niat Shalat, Suratan Al Fatihah, Surat2 dan Salam.

https://media.ihram.asia/wp-content/uploads/2016/03/niat-shalat-taubat-Nasuha.png
“USHALLI SUNNATAT TAUBATI RAK’ATAINI LILLAAHI TA’AALAA. ALLAAHU AKBAR”.
Artinya: “Aku Niat Shalat Sunah Taubat dua Raka’at karena Allah Ta’ala, Allah Maha Besar ”.

Setelah anda membaca bacaan Niat diatas maka anda tinggal membaca Surat Al Fatihah, Suratan, Ruku, Itidal, Sujud dan Salam seperti mengerjakan Shalat Wajib kemudian Shalat Sunah Taubat Nasuha ini dikerjakan minimal 2 Raka’at dan maksimal 6 Raka’at.
doa taubat 
 
 
 
Setelah selesai mengerjakan Shalat Taubat maka anda duduklah dengan khusyu dan tenang, kemudian membaca Dzikir Sholawat Nabi, Tahmid maupun bacaan Tahlil setelah itu perbanyaklah membaca bacaan Istighfar yang dibaca minimal 100 kali karena manfaat dari bacaan Istighfar itu sendiri adlh untuk memohon ampunan kpd Allah SWT.
Doa sesudah sholat taubat
 https://media.ihram.asia/wp-content/uploads/2016/03/doa-shalat-taubat-istighfar.jpg
” ASTAGHFIRULLAAHAL ‘AZHIIMA, ALLADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIHI ”.
Artinya: “Saya memohon ampunan kpd Allah yang Maha Agung saya mengaku bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, Tuhan yang hidup terus selalu jaga”.

Kamis, 26 Januari 2017




Cara Pelaksanaan Shalat Sunat Hajat Lengkap Dengan Niat dan Doa

Bacaan Doa Niat Sholat Hajat
Bacaan doa  niat sholat hajat dalam bahasa arab:
Bacaan Doa Niat Sholat Hajat & Tata Cara Sholat Hajat
Bacaan doa niat sholat hajat dalam bahasa latin: 
“Ushalli Sunnatal haajati raka’ataini lillahi Ta’aala”.
Artinya:
“Aku niat shalat sunah hajat dua raka’at karena Allah Ta’ala”

Tata Cara Sholat Hajat

Sebelum mengerjakan shalat hajat tentu saja diawali dengan membaca niat shalat hajat seperti diatas, lalu mulai dengan langkah-langkah mengerjakan sholat hajat dibawah ini :
1. Membaca doa iftitah
2. Membaca Surat Al-Fatihah
3. Membaca salah satu surat Al-Qur’an yang anda ketahui.
Alangkah lebih baiknya membaca surat Al-Ikhlas di rakaat pertama sedangkan pada rakaat kedua membaca ayat kursi (Surat Al-Baqarah: 255).
4. Ruku’ dengan membaca tasbih tiga kali
5. I’tidal dengan membaca bacaannya
6. Sujud dengan membaca tasbih 3 kali
7. Duduk diantara dua sujud sambil membaca bacaannya
8. Sujud dengan membaca tasbih 3 kali
9. Setelah rokaat pertama, lakukan rakaat kedua seperti tata cara pada rakaat pertama, kemudian pada tasyahud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali.

Bacaan Doa Setelah Shalat Hajat

Setelah mengerjakan shalat hajat, dianjurkan untuk membaca istighfar sebanyak 100, seperti yang anda lihat dibawah ini…
Bacaan Doa Niat Sholat Hajat & Tata Cara Sholat Hajat
Setelah membaca istighfar sebanyak 100 kali, selanjutnya membaca dzikir seperti sholawat nabi, bacaan tahlil dan bacaan tasih dengan duduk khusyu dan penuh keikhlasan. Berikut bacaannya.. 
Membaca Sholawat Nabi 32x sampai 100x 
Bacaan Doa Niat Sholat Hajat & Tata Cara Sholat Hajat
 Membaca tasbih 21x sampai dengan 32x
Bacaan Doa Niat Sholat Hajat & Tata Cara Sholat Hajat
Membaca tahlil 21x sampai dengan 32x 
Bacaan Doa Niat Sholat Hajat & Tata Cara Sholat Hajat
Bacaan Doa Shalat Hajat
Setelah membaca dzikir seperti bacaan istighfar, sholawat nabi, tahlil dan tasbih selanjutnya membaca bacaan doa shalat hajat seperti yang kita lihat dibawah ini….
Bacaan doa shalat hajat dalam bahasa arab:
Bacaan Doa Niat Sholat Hajat & Tata Cara Sholat Hajat
Bacaan doa shalat hajat dalam bahasa latin:
Bacaan Doa Niat Sholat Hajat & Tata Cara Sholat Hajat
Bacaan Doa Niat Sholat Hajat & Tata Cara Sholat Hajat
Demikianlah informasi mengenai Bacaan Doa Niat Sholat Hajat & Tata Cara Sholat Hajat. Semoga teman-teman dapat menerima dan bermanfaat bagi kita semua baik itu pengertian sholat hajat, bacaan doa sholat hajat, waktu mengerjakan sholat hajat, jumlah rakaat sholat hajat, bacaan doa niat sholat hajat dalam bahasa arab, bacaan doa niat sholat dalam bahasa latin,bacaan doa niat sholat dalam bahasa indonesia/terjemahannya, tata cara sholat hajat,doa setelah sholat hajat. lafadz doa niat sholat hajat, doa sholat hajat.

Selasa, 10 Januari 2017



Dari Ibnu 'Umar 
"Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Barangsiapa telah mengucapkannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah ta'ala". HR. Bukhari dan Muslim
Penjelasan:
Hadits ini amat berharga dan termasuk salah satu prinsip Islam yang semakna juga diriwayatkan Rasulullah bersabda 
"Sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, menghadap kepada kiblat kita, memakan sembelihan kita dan melaksanakan shalat kita. Jika mereka melakukan hal itu, maka darah mereka dan harta mereka haram kita sentuh kecuali karena hak. Bagi mereka hak sebagaimana yang diperoleh kaum muslim dam mereka memikul kewajiban sebagaimana yang menjadi kewajiban kaum muslimin".
Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah bersabda
"Sampai mereka bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah dan beriman kepadaku dan apa yang aku bawa". Hal ini sesuai dengan kandungan Hadits riwayat dari 'Umar diatas.
Tentang maksud hadits ini para ulama mengartikannya berdasarkan sejarah, yaitu tatkala Rasulullah wafat dan Abu Bakar Ash Shiddiq diangkat sebagai khalifah untuk menggantikannya, sebagian dari orang Arab menjadi kafir. Abu Bakar bertekad untuk memerangi mereka sekalipun di antara mereka ada yang tidak kafir tetapi menolak membayar zakat. 
Abu Bakar lalu mengemukakan alasan perbuatannya itu, tetapi
'Umar berkata kepadanya : "Bagaimana engkau akan memerangi manusia sedangkan mereka mengucapakan laa ilaaha illallaah
Rasulullah bersabda : "Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah ... dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah Ta'ala".
Abu Bakar lalu menjawab : "Sesungguhnya zakat itu adalah kewajiban yang bersifat kebendaan". Lalu katanya : "Demi Allah, kalau mereka merintangiku untuk mengambil seutas tali unta yang mereka dahulu serahkan sebagai zakat kepada Rasulullah niscaya aku perangi mereka karena penolakannya itu"
Maka kemudian Umar mengikuti jejak Abu Bakar untuk memerangi kaum tersebut.
Kalimat "Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, dan barangsiapa telah mengucapkannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah".
Khatabi dan lain-lain bekata : "Yang dimaksud oleh Hadits ini ialah kaum penyembah berhala dan kaum Musyrik Arab serta orang yang tidak beriman, bukan golongan Ahli kitab dan mereka yang mengakui keesaan Allah".
Untuk terpeliharanya orang-orang semacam itu tidak cukup dengan mengucapkan laa ilaaha illallaah saja, karena sebelumnya mereka sudah mengatakan kalimat tersebut semasa masih sebagai orang kafir dan hal itu sudah menjadi keimanannya.Tersebut juga didalam hadits lain kalimat "dan sesungguhnya aku adalah rasul Allah, mereka melaksanakan shalat, dan mengeluarkan zakat".
Syaikh Muhyidin An Nawawi berkata : "Di samping mengucapkan hal semacam ini ia juga harus mengimani semua ajaran yang dibawa Rasulullah seperti tersebut pada riwayat lain dari Abu Hurairah, yaitu kalimat, "sampai mereka bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah, beriman kepadaku dan apasaja yang aku bawa"
Kalimat, "Dan perhitungannya terserah kepada Allah" maksudnya ialah tentang hal-hal yang mereka rahasiakan atau mereka sembunyikan, bukan meninggalkan perbuatan-perbuatan lahiriah yang wajib. Demikian disebutkan oleh khathabi.
Khathabi berkata : Orang yang secara lahiriah menyatakan keislamannya, sedang hatinya menyimpan kekafiran, secara formal keislamannya diterima" ini adalah pendapat sebagian besar ulama.
Imam Malik berkata : "Tobat orang yang secara lahiriah menyatakan keislaman tetapi menyimpan kekafiran dalam hatinya (zindiq) tidak diterima" ini juga merupakan pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad.  Kalimat, "aku diperintah memerangi manusia sampai mereka bersaksi tidak ada tuhan kecuali Allah dan mereka beriman kepadaku dan apa yang aku bawa" menjadi alasan yang tegas dari mazhab salaf bahwa manusia apabila meyakini islam dengan sungguh-sungguh tanpa sedikitpun keraguan, maka hal itu sudah cukup bagi dirinya.
Dia tidak perlu mempelajari berbagai dalil ahli ilmu kalam dan mengenal Allah dengan dalil-dalil semacam itu. Hal ini berbeda dengan mereka yang berpendapat bahwa orang tersebut wajib mempelajari dalil-dalil semacam itu dan dijadikannya sebagai syarat masuk Islam. Pendapat ini jelas sekali kesalahannya, sebab yang dimaksud oleh hadits diatas, adanya keyakinan yang sungguh-sungguh dalam diri seseorang. Hal ini sudah dapat terpenuhi tanpa harus mempelajari dalil-dalil semacam itu, sebab Rasulullah mencukupkan dengan mempercayai ajaran apa saja yang beliau bawa tanpa mensyaratkan mengetahui dalil-dalilnya. Didalam hal ini terdapat beberapa hadits shahih yang jumlah sanadnya mencapai derajat mutawatir dan bernilai pengetahuan yang pasti. Wallahu a'lam